“LISTRIK MBAH TJ” : PEMANFAATAN ENERGI
LISTRIK DARI LIMBAH TONGKOL JAGUNG (Zea mays L.) DI
PROVINSI GORONTALO BERBASIS TEKNOLOGI MICROBIAL
FUEL CELL UNTUK INDONESIA MANDIRI ENERGI
Tony Abdillah Gumilar
Balai Pengamanan dan
Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan
tonyabdillah21@gmail.com
Ancaman Krisis Energi di Indonesia
Indonesia saat
ini sedang dihadapkan pada masalah sulit yang menyangkut hajat hidup orang
banyak berupa kebutuhan akan energi listrik. Proyeksi jangka panjang dari
Bappenas dan BPS terbaru pada tahun 2013 menyatakan bahwa pertumbuhan penduduk
Indonesia untuk periode 2012-2035 rata-rata pertumbuhannya 0,96% per tahun.
Pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat menyebabkan permintaan energi
listrik semakin besar sedangkan pasokan sumber energi listrik semakin menipis
(Puppan, 2002).
Hasil temuan
terbaru menurut BPPT (2014) menunjukan pada tahun 2011, total cadangan minyak
Indonesia sebesar 7,73 milyar barel yang terdiri atas sekitar 4,04 miliar barel
cadangan terbukti (proven) dan 3,69
miliar barel cadangan potensial. Tahun 2012, total cadangan minyak tersebut
menurun menjadi 7,41 milyar barel yang terdiri atas 3,74 milyar barel cadangan
terbukti dan 3,67 milyar barel cadangan potensial. Jika keadaan ini terus
dibiarkan dan Indonesia hanya mengandalkan sumber fosil untuk memenuhi
kebutuhan energi, maka krisis energi di Indonesia beberapa tahun mendatang
tidak dapat dihindari.
Kesulitan
dalam mengatasi krisis energi di masa depan membuat banyak pihak menganjurkan
untuk mengalihkan dan mengurangi pemanfaatan sumber energi dari bahan bakar
fosil dengan memanfaatkan bahan bakar nabati (Sobat madani, 2021) atau
menggunakan pengembangan sumber energi alternatif terbarukan (renewable)
untuk mensubstitusi penggunaan minyak bumi yang selama ini menjadi sumber
energi utama bagi masyarakat (Aelterman et al., 2006).
Potensi Limbah Tongkol Jagung di Provinsi Gorontalo
Provinsi Gorontalo merupakan salah satu daerah penghasil jagung terbesar di Indonesia dengan luas lahan tanaman jagung di Gorontalo yang terus meningkat. Berdasarkan data Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo, luas lahan jagung pada tahun 2012 hanya 140.995 hektar. Pada tahun 2018 naik menjadi 366.210 hektar dengan luas panen jagung mencapai 343.231 hektar. Hal tersebut selaras dengan meningkatnya produksi jagung di Provinsi Gorontalo. Mengacu pada angka ramalan II Badan Pusat Statistik, total produksi jagung sepanjang 2018 sudah mencapai 1,56 juta ton. Produksi tersebut dihasilkan dari total area panen seluas 343.241 hektare.
Potensi jagung (Zea mays L.) di Provinsi Gorontalo sangat besar yang dapat digunakan sebagai bahan pakan, bahan baku industri dan bahan alternatif biofuel. Pemakaian jagung dalam skala besar akan menghasilkan limbah yaitu berupa tongkol jagung, yang belum dimanfaatkan secara optimal. Berdasarkan data perhitungan dari Badan Pusat Statistik pada tahun 2009, diketahui bahwa paling tidak sebanyak 6.811.642 ton tongkol jagung akan menjadi limbah.
Pemanfaatan Energi Listrik Micrfobial Fuel Cell dari Limbah Tongkol
Jagung
Pemanfaatan
tongkol jagung diharapkan dapat mengurangi limbah lingkungan, baik limbah fisik
yang merusak pemandangan maupun limbah polutan udara yang mengganggu kesehatan.
Komposisi senyawa kimia yang terkandung dalam tongkol jagung secara umum ialah
air 10,9%; selulosa 36,48%;
hemiselulosa 28,86%; lignin 3,16%; silika 20,6% (Agustin,1995). Selulosa
merupakan sumber biomassa terbarukan yang dapat menggantikan sumber fosil yang
selama ini dijadikan bahan bakar fosil yang tidak dapat diperbaharui. Biomassa
yang mengandung glukosa atau prekursor untuk menjadi glukosa tinggi maka akan
lebih mudah untuk dikonversi menjadi biofuel.
Secara
umum, Biofuel adalah bahan bakar dari biomassa atau materi yang berasal dari
tumbuhan dan hewan, namun lebih cenderung dari tumbuhan. Biofuel itu sendiri
dibagi menjadi beberapa jenis, yakni bioetanol, biodiesel, dan biogas. Menurut
Departemen Energi Amerika Serikat, biofuel seperti etanol menghasilkan karbon
dioksida hingga 48 persen lebih sedikit daripada bensin konvensional sementara
penggunaan biodiesel hanya melepaskan seperempat jumlah karbon dioksida yang
dikeluarkan diesel konvensional. Hal ini menjadi pilihan yang jauh lebih ramah
lingkungan jika dibandingkan dengan bahan bakar fosil (Sobat madani, 2021).
Limbah tongkol
jagung ini akan menjadi sumber penyakit, sumber pencemaran, dan menimbulkan bau
yang tidak sedap bila pembuangannya tidak diberi perlakuan yang tepat. (Li,
2010). Maka dari itu, sebagai upaya penyelamatan lingkungan, limbah tongkol
jagung ini dapat dimanfaatkan sebagai substrat dalam sistem Microbial Fuel
Cell (MFC) untuk memproduksi listrik.
Pemanfaatan
mikroba untuk menghasilkan energi listrik menjadi upaya yang ditempuh dan
dilakukan oleh para peneliti dalam beberapa tahun ini. Sistem yang digunakan
adalah teknologi Microbial Fuel Cells
(MFC) yang merubah penyimpanan
energi kimia dalam bentuk campuran organik menjadi energi listrik yang terus
menembus reaksi katalis oleh mikroorganisme telah menghasilkan energi listrik.
Mikroba bisa digunakan dalam sistem MFC untuk menghasilkan energi listrik
sambil menyelesaikan proses penghancuran dari material organik (Du et al.,
2007).
Gambar 1. Prinsip Kerja Sistem MFC (Glosaria.com, 2021)
Manfaat Teknologi Microbial Fuel Cell
Pemanfaatan limbah tongkol jagung dalam apilikasi teknologi Microbial Fuel Cell ini menjadi solusi alternatif bagi penanggulangan limbah yang umumnya memberikan dampak negatif terutama bagi lingkungan sekitar khususnya dalam mewujudkan mandiri energi di Indonesia. Konversi energi fuel cell biasanya lebih efisien daripada jenis pengubah energi lainnya, yakni dapat mencapai 60-80%. Keuntungan lain yang ditawarkan Microbial Fuel Cell yaitu karena prosesnya yang cepat, biaya yang relatif murah, ramah lingkungan karena tidak menimbulkan polutan berbahaya dan dapat mengurangi sumber penyakit, serta bersifat terbarukan karena sumber bahan dasar yang digunakan berupa limbah tongkol jagung yang jumlahnya sangat melimpah di Indonesia khususnya di Provinsi Gorontalo dan hingga kini belum termanfaatkan secara optimal.
DAFTAR PUSTAKA
Aelterman,P., Rabaey,K, Clauwaert,P.,
Verstraete,W. 2006. Microbial Fuel Cells for Wastewater Treatment, Water
Science & Technology. Vol. 54, no.8, pp. 9-15
Agustin,
1995. “Fermentasi Tongkol Jagung Sebagai
Alternatif Pakan Ternak“. Warta Pengkajian dan Pengembangan Pertanian,
Vol.28, Kalimantan Selatan.
Andika,2021.https://republika.co.id/berita/ekonomi/pertanian/19/02/28/pnmoaa370-gorontalo-targetkan-produksi-jagung-17-juta-ton
diakses. Diakses pada 10 Oktober 2021.
Bappenas.
(2013). Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035. Jakarta: Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional Bekerja Sama dengan Badan Pusat Statistik dan United
Nations Population Fund.
BPPT.
(2014). Outlook Energi Indonesia 2013. Jakarta: Badan Pengkajian dan
Penerapan Teknologi.
Du,
Zhuwei, H. Li, and T. Gu., 2007, A State Of The Art Review on Microbial Fuel
Cell; A Promising Technology for Wastewater Treatment and Bioenergy.
Journal Biotechnology Advances 25, 464-482
Glosaria.com, 2021. https://www.glosaria.com/2017/03/mengenal-microbial-fuel-cell-teknologi.html. Diakses pada 18 Oktober 2021.
Li, Yao., 2010, Electricity Generation Using a Baffled Microbial Fuel Cell Convenient for Stacking, Bioresource Technology
Puppan,
D. (2002). Environmental Evaluation of
Biofuels. Periodica Polytechnica Ser, Soc, Man, Sci 10, 1, 95-116.
Sobat Madani, 2021. https://madaniberkelanjutan.id/2021/10/05/apa-itu-biofuel-bahan-bakar-nabati.
Diakses pada 10 Oktober 2021.
sangat inspiratif kang, saat ini kita harus bisa bepikir kratif memanfaatkan apa yg ada di sekitar kita supaya bisa menjadi sesuatu yg bermanfaat dan bernilai tinggi. tulisan yang bagus
ReplyDelete