Sunday, October 17, 2021

 

“LISTRIK MBAH TJ” : PEMANFAATAN ENERGI LISTRIK DARI LIMBAH TONGKOL JAGUNG  (Zea mays L.) DI PROVINSI GORONTALO BERBASIS TEKNOLOGI MICROBIAL FUEL CELL UNTUK INDONESIA MANDIRI ENERGI

Tony Abdillah Gumilar

Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan

tonyabdillah21@gmail.com

 

Ancaman Krisis Energi di Indonesia

Indonesia saat ini sedang dihadapkan pada masalah sulit yang menyangkut hajat hidup orang banyak berupa kebutuhan akan energi listrik. Proyeksi jangka panjang dari Bappenas dan BPS terbaru pada tahun 2013 menyatakan bahwa pertumbuhan penduduk Indonesia untuk periode 2012-2035 rata-rata pertumbuhannya 0,96% per tahun. Pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat menyebabkan permintaan energi listrik semakin besar sedangkan pasokan sumber energi listrik semakin menipis (Puppan, 2002).

Hasil temuan terbaru menurut BPPT (2014) menunjukan pada tahun 2011, total cadangan minyak Indonesia sebesar 7,73 milyar barel yang terdiri atas sekitar 4,04 miliar barel cadangan terbukti (proven) dan 3,69 miliar barel cadangan potensial. Tahun 2012, total cadangan minyak tersebut menurun menjadi 7,41 milyar barel yang terdiri atas 3,74 milyar barel cadangan terbukti dan 3,67 milyar barel cadangan potensial. Jika keadaan ini terus dibiarkan dan Indonesia hanya mengandalkan sumber fosil untuk memenuhi kebutuhan energi, maka krisis energi di Indonesia beberapa tahun mendatang tidak dapat dihindari.  

Kesulitan dalam mengatasi krisis energi di masa depan membuat banyak pihak menganjurkan untuk mengalihkan dan mengurangi pemanfaatan sumber energi dari bahan bakar fosil dengan memanfaatkan bahan bakar nabati (Sobat madani, 2021) atau menggunakan pengembangan sumber energi alternatif terbarukan (renewable) untuk mensubstitusi penggunaan minyak bumi yang selama ini menjadi sumber energi utama bagi masyarakat (Aelterman et al., 2006).

Potensi Limbah Tongkol Jagung di Provinsi Gorontalo

        Provinsi Gorontalo merupakan salah satu daerah penghasil jagung terbesar di Indonesia dengan luas lahan tanaman jagung di Gorontalo yang terus meningkat. Berdasarkan data Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo, luas lahan jagung pada tahun 2012 hanya 140.995 hektar. Pada tahun 2018 naik menjadi 366.210 hektar dengan luas panen jagung mencapai 343.231 hektar. Hal tersebut selaras dengan meningkatnya produksi jagung di Provinsi Gorontalo. Mengacu pada angka ramalan II Badan Pusat Statistik, total produksi jagung sepanjang 2018 sudah mencapai 1,56 juta ton. Produksi tersebut dihasilkan dari total area panen seluas 343.241 hektare.

Potensi jagung (Zea mays L.) di Provinsi Gorontalo sangat besar yang dapat digunakan sebagai bahan pakan, bahan baku industri dan bahan alternatif biofuel. Pemakaian jagung dalam skala besar akan menghasilkan limbah yaitu berupa tongkol jagung, yang belum dimanfaatkan secara optimal. Berdasarkan data perhitungan dari Badan Pusat Statistik pada tahun 2009, diketahui bahwa paling tidak sebanyak 6.811.642 ton tongkol jagung akan menjadi limbah.

Pemanfaatan Energi Listrik Micrfobial Fuel Cell dari Limbah Tongkol Jagung

Pemanfaatan tongkol jagung diharapkan dapat mengurangi limbah lingkungan, baik limbah fisik yang merusak pemandangan maupun limbah polutan udara yang mengganggu kesehatan. Komposisi senyawa kimia yang terkandung dalam tongkol jagung secara umum ialah air 10,9%; selulosa 36,48%; hemiselulosa 28,86%; lignin 3,16%; silika 20,6% (Agustin,1995). Selulosa merupakan sumber biomassa terbarukan yang dapat menggantikan sumber fosil yang selama ini dijadikan bahan bakar fosil yang tidak dapat diperbaharui. Biomassa yang mengandung glukosa atau prekursor untuk menjadi glukosa tinggi maka akan lebih mudah untuk dikonversi menjadi biofuel.

Secara umum, Biofuel adalah bahan bakar dari biomassa atau materi yang berasal dari tumbuhan dan hewan, namun lebih cenderung dari tumbuhan. Biofuel itu sendiri dibagi menjadi beberapa jenis, yakni bioetanol, biodiesel, dan biogas. Menurut Departemen Energi Amerika Serikat, biofuel seperti etanol menghasilkan karbon dioksida hingga 48 persen lebih sedikit daripada bensin konvensional sementara penggunaan biodiesel hanya melepaskan seperempat jumlah karbon dioksida yang dikeluarkan diesel konvensional. Hal ini menjadi pilihan yang jauh lebih ramah lingkungan jika dibandingkan dengan bahan bakar fosil (Sobat madani, 2021).

Limbah tongkol jagung ini akan menjadi sumber penyakit, sumber pencemaran, dan menimbulkan bau yang tidak sedap bila pembuangannya tidak diberi perlakuan yang tepat. (Li, 2010). Maka dari itu, sebagai upaya penyelamatan lingkungan, limbah tongkol jagung ini dapat dimanfaatkan sebagai substrat dalam sistem Microbial Fuel Cell (MFC) untuk memproduksi listrik.

Pemanfaatan mikroba untuk menghasilkan energi listrik menjadi upaya yang ditempuh dan dilakukan oleh para peneliti dalam beberapa tahun ini. Sistem yang digunakan adalah teknologi Microbial Fuel Cells (MFC) yang merubah penyimpanan energi kimia dalam bentuk campuran organik menjadi energi listrik yang terus menembus reaksi katalis oleh mikroorganisme telah menghasilkan energi listrik. Mikroba bisa digunakan dalam sistem MFC untuk menghasilkan energi listrik sambil menyelesaikan proses penghancuran dari material organik (Du et al., 2007).


Gambar 1. Prinsip Kerja Sistem MFC (Glosaria.com, 2021)

Manfaat Teknologi Microbial Fuel Cell

Pemanfaatan limbah tongkol jagung dalam apilikasi teknologi Microbial Fuel Cell ini menjadi solusi alternatif bagi penanggulangan limbah yang umumnya memberikan dampak negatif terutama bagi lingkungan sekitar khususnya dalam mewujudkan mandiri energi di Indonesia. Konversi energi fuel cell biasanya lebih efisien daripada jenis pengubah energi lainnya, yakni dapat mencapai 60-80%. Keuntungan lain yang ditawarkan Microbial Fuel Cell yaitu karena prosesnya yang cepat, biaya yang relatif murah, ramah lingkungan karena tidak menimbulkan polutan berbahaya dan dapat mengurangi sumber penyakit, serta bersifat terbarukan karena sumber bahan dasar yang digunakan berupa limbah tongkol jagung yang jumlahnya sangat melimpah di Indonesia khususnya di Provinsi Gorontalo dan hingga kini belum termanfaatkan secara optimal.

DAFTAR PUSTAKA 

 Aelterman,P., Rabaey,K, Clauwaert,P., Verstraete,W. 2006. Microbial Fuel Cells for Wastewater Treatment, Water Science & Technology. Vol. 54, no.8, pp. 9-15

Agustin, 1995. “Fermentasi Tongkol Jagung Sebagai Alternatif Pakan Ternak“. Warta Pengkajian dan Pengembangan Pertanian, Vol.28, Kalimantan Selatan.

Andika,2021.https://republika.co.id/berita/ekonomi/pertanian/19/02/28/pnmoaa370-gorontalo-targetkan-produksi-jagung-17-juta-ton diakses. Diakses pada 10 Oktober 2021.

Bappenas. (2013). Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035. Jakarta: Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bekerja Sama dengan Badan Pusat Statistik dan United Nations Population Fund.

BPPT. (2014). Outlook Energi Indonesia 2013. Jakarta: Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.

Du, Zhuwei, H. Li, and T. Gu., 2007, A State Of The Art Review on Microbial Fuel Cell; A Promising Technology for Wastewater Treatment and Bioenergy. Journal Biotechnology Advances 25, 464-482

Glosaria.com, 2021. https://www.glosaria.com/2017/03/mengenal-microbial-fuel-cell-teknologi.html. Diakses pada 18 Oktober 2021.

Li, Yao., 2010, Electricity Generation Using a Baffled Microbial Fuel Cell Convenient for Stacking, Bioresource Technology

Puppan, D. (2002). Environmental Evaluation of Biofuels. Periodica Polytechnica Ser, Soc, Man, Sci 10, 1, 95-116.

Sobat Madani, 2021. https://madaniberkelanjutan.id/2021/10/05/apa-itu-biofuel-bahan-bakar-nabati. Diakses pada 10 Oktober 2021.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Friday, January 29, 2021

 

KISAH PERJALANAN TUGAS NEGARA DI PULAU PERBATASAN NEGARA FILIPINA KEPULAUAN TALAUD PROVINSI SULAWESI UTARA

(ARTIKEL BAGIAN I-VI)

 

 

Disusun Oleh :

Nama             : Tony Abdillah Gumilar, S.Si

                        NIP                 : 199411152018011002

                        Pangkat         : Penata  Muda / III a

Jabatan          : Polisi Kehutanan Pertama                      

Unit Kerja      : Balai PPHLHK Wil. Sulawesi

 

KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

DIDIREKTORAT JENDERAL PENEGAKAN HUKUM LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

BALAI PENGAMANAN PENEGAKAN HUKUM LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN WILAYAH SULAWESI


















KISAH PERJALANAN TUGAS NEGARA DI PULAU PERBATASAN NEGARA FILIPINA KEPULAUAN TALAUD PROVINSI SULAWESI UTARA

(Artikel Bagian I)

 

Hari Selasa Tgl 23 Bulan April Tahun 2019 penulis masuk dalam sebuah tim tugas negara untuk melaksanakan perjalanan dinas dalam rangka kegiatan Operasi Pengamanan Hutan di perbatasan Negara Filipina tepatnya di kwasan SM. Karakelang Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Sulawesi Utara Provinsi Sulawesi Utara.

Kawasan SM. Karakelang SKW I BKSDA Sulut

Description: Image result for peta gambar SM karakelangKawasan Suaka Margasatwa Karakelang terletak di Pulau Karakelang Kabupaten Kepulauan Talaud, dimana Pulau Karakelang ini merupakan pulau terbesar pada gugusan Kepulauan Sangihe-Biaro-Talaud yang terletak diantara Ujung Utara semenanjung Pulau Sulawesi dan Pulau Mindanao, Filipina. Pulau seluas 802,43 km2 ini berdasarkan analisa citra satelit tahun 2001-2002 terbagi atas wilayah hutan seluas 260,43 km2 dan kebun/perkebunan seluas 232,78 km2. sedangkan sisanya merupakan lahan terbuka dan pemukiman penduduk. Topografi di pulau ini umumnya landai hingga terjal dengan kisaran antara 0 hingga 650 m dpl. Kawasan Suaka Margasatwa Karakelang ini terdiri dari SM. Karakelang bagian Utara dan Selatan dengan luas keseluruhan ± 24.669 ha.

 

Sebelumnya status dan fungsi kawasan Hutan Suaka Margasatwa Karakelang adalah Taman Buru. Hal ini berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 510/Kpts/UB/8/1979 tanggal 8 Agustus 1979 yang menunjuk kawasan tersebut sebagai Taman Buru dengan luas ± 21.800 ha. Kemudian dipecah menjadi dua kawasan Taman Buru dengan SK Menteri Kehutanan No. 517/Kpts-II/1989 tanggal 19 September 1989 untuk Kawasan Karakelang Selatan dengan luas 3995 ha dan SK Menteri Kehutanan No. 399/Kpts-II/1989 tanggal 2 Agustus 1989 untuk Kawasan Karakelang Utara dengan luas ±20.674 ha. Akan tetapi berdasarkan penelitian potensi biotis yang dikandung oleh kawasan tersebut, maka berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 97/Kpts-II/2000 tanggal 22 Desember 2000 kawasan tersebut ditetapkan dan diubah fungsinya sebagai kawasan Suaka Margasatwa dengan luas ± 24.669 ha.

Suaka Margasatwa Karakelang terletak di Pulau Karakelang yang secara administratif termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Kepulauan Talaud, Provinsi Sulawesi Utara. Suaka Margasatwa ini dibagi atas dua kawasan yaitu Kawasan Karakelang Bagian Utara (100-608 m dpl) dan Kawasan Karakelang Baggian Selatan (100-521 m dpl). Kawasan Karakelang Bagian Utara secara geografis terletak kurang lebih pada (04013’45’’- 04013’32’’ LU dan 19050’30’’ – 20000’04’’BT) dan secara administratif berbatasan dengan Kecamatan Beo, Kecamatan Essang, Kecamatan Gemeh, dan Kecamatan Rainis.

Pulau Karakelang penting secara ornitologi karena termasuk dalam Daerah Burung Endemik Sangihe-Talaud, satu dari 24 Daerah Burung Endemik (DBE) yang ada di Indonesia (E19) (Sujatnika et al., 1995). DBE ini mendukung14 spesies burung sebaran terbatas (jenis yang memiliki penyebaran <>2), dimana enam jenis diantaranya terdapat di Karakelang (Wardill et al., 1997).

Iklim di wilayah Kepulauan Talaud adalah iklim basah dengan curah hujan rata-rata 316 mm/bulan dengan kelembaban udara berkisar 66-92 %. Intensitas curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember hingga Januari dan musim kering pada bulan Agustus hingga September (Bapedda, 2003).

 

TIM MELAKUKAN PERSIAPAN KEBERANGKATAN

(Artikel Bagian II)

Sebelum tim melaksanakn tugas dinas operasi pengamanan hutan tim melakukan persiapan yaitu diantaranya ketua tim melakukan koordinasi dan diskusi dengan personil untuk melakukan rapat kecil diskusi tim membahas alat dan bahan apa saja yang perlu dibawa seperti administrasi penyidikan sampai dengan hal-hal kecil seperti system makan tim ketka di pualu talaud, tiket kapal laut keberangkatan kemudian teknis kerja di lapangan seperti apa, strategi operasi yang baik seperti apa dan membahas tentang tindakan yang diambil ketika plan a maupun plan b tidak tercapai.

Description: D:\GAKKUM SULUT MANADO\TONY 2019\APRIL\OPSPAM BEO TALAUD\DOKUMENTASI\IMG_20190423_142422.jpg

 

 

 

 

 

 

 

 

TIM BERANGKAT DARI PELABUHAN MANADO MENUJU PELABUHAN BEO TALAUD

Setelah kemarin tim melakukan diskusi kemudian pada hari selasa tanggal 23 april 2019 tim meakukan keberangkatan ke pelabuhan Manado pada pukul 15.00 wita yang berkumpul di Kantor untuk berangkat bersama-sama ke pelabuhan. Setelah personil tim lengkap berada di kantor maka pada pukul 15.30 wita tim melakukan doa bersama dan foto bersama untuk meminta pertolongan dan perlindungan selama perjalanan dalam menjalankan tugas Negara.

Sekitar pukul 15.45 wita kami sudah tiba di pelabuhan Manado karena jarak antara pelabuhan dengan kantor cukup dekat kurang lebih 10 km selanutya kami langsung naik ke kapal laut KM Barcelona II dengan tujuan ke pelabuhan kepulauan Talaud dan Beo. Keberangkatan kapal laut kurang lebih pada pukul 16.30 wita sehingga kami harus menunggu dengan melakukan aktifitas foto di kapal dengan pemandangan laut kemudian tepat pada pukul 16.30 wita kapal laut KM Barcelona II berangkat.

Description: D:\GAKKUM SULUT MANADO\TONY 2019\APRIL\OPSPAM BEO TALAUD\DOKUMENTASI\IMG_20190425_101421.jpg

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PERJALANAN NAIK KAPAL KM BARECELONA II

(Artikel Bagian III)

Selama perjalanan di kapal, kami ditemani dengan cuaca yang kurang mendukung alhasil di luar turun hujan deras, sehingga kami tidak dapat menikmati keindahan suasana sunset sore hari di kapal laut. Langit gelap pun telah tiba ketika kami tertidur lelap di kapal, sekitar pukul 20.00 wita kami terbangun ketika ABK Kapal membagi-bagikan makan malam untuk para penumpang, lalu kami pun menikmati santapan makan malam bersama.

Karena cuaca hari itu kurang bagus, maka selama perjalanan masih di guyur hujan dan berderai ombak keras, sehingga sering kali kapal bergerak dan bergoyang. Sekitar pukul 22.00 wita perasaan mulai terasa khawatir ketika kebanyakan penumpang sedang terlelap tidur, terjadi benturan keras kapal oleh ombak dan angin yang kencang, beberapa kali benturan keras ombak menghantam kapal yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi.

Semakin larut malam, bukannya deburan ombak semakin menurun, ternyata deburan ombak dan angina malah tambah semakin kencang yang menghantam kapal sampai air beberapa kali masuk ke dalam kapal. Masuknya air laut ke dalam kapal membuat para penumpang kapal termasuk penulis sendiri merasa mulai sangat khawatir dan terbesit di dalam fikiran membayangkan tragedi kejadian film Titanic yang tenggelam karena menghantam pegunungan es yang fenomenal tersebut.

 

 

 

 

 

 

Description: D:\GAKKUM SULUT MANADO\TONY 2019\APRIL\OPSPAM BEO TALAUD\DOKUMENTASI\IMG_20190427_122625.jpg

 

 

 

 

 

 

 

 

Kemudain puncaknya sekitar pukul 00.00-01.00 wita semakin terasa benturan keras kapal dengan deburan ombak yang menurut perkiraan BMKG mencapai 4 m, yang mengakibatkan air kembali masuk ke dalam kapal, sehingga semakin membuat tambah banyak dan barang-barang para penumpang mulai hanyut entah kemana.

Penulis mengalami dan melihat kejadian langsung tersebut mulai mengingat sama Tuhan Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW untuk berdoa dalam hati mohon perlindungan dan keselematan untuk kami semua tanpa terkecuali dan mohon diberikan mati syahid jika memang waktu nya sudah tiba menghadap Illahi. Ketika penulis sedang mengaji dan berdoa, ternyata terdengar suara-suara rintihan doa dari samping kanan samping kiri depan dan belakang dari para penumpang baik itu berupa doa-doa islami, doa kristiani maupun doa yang lainnya.

Description: D:\GAKKUM SULUT MANADO\TONY 2019\APRIL\OPSPAM BEO TALAUD\DOKUMENTASI\IMG_20190424_173752.jpg

 

 

 

 

 

 

 

 

Hingga pada akhirnya, penderitaan selama goncangan hebat di kapal laut berakhir sekitar pukul 04.00 wita atau mungkin jarak sampai pelabuhan kepulauan Talaud sudah mulai dekat. Kemudian sampailah kami tiba di pelabuhan kepulauan Talaud sekitar pukul 06.00 wita dengan melihat secercah sinar matahari. Namun kami tidak turun di pelabuhan kepulaaun Talaud, melainkan masih melanjutkan perjalanan ke pelabuhan Beo kurang lebih 3 jam. Tepat pada pukul 09.00 wita akhirnya kami tiba di pelabuhan Beo yang perbatasan langsung dengan Negara Filipina. Kami sudah di jemput oleh rekan-rekan resort BKSDA Sulawesi Utara yang berkantor di Beo.

 

 

 

 

 

 

TIBA DI RESORT BEO & MEETING PERSIAPAN OPERASI PENGAMANAN HUTAN

(Artikel Bagian IV)

Description: D:\GAKKUM SULUT MANADO\TONY 2019\APRIL\OPSPAM BEO TALAUD\DOKUMENTASI\IMG_20190425_102214.jpgKami diantar oleh rekan-rekan resort Beo dan menetap sementara di kediaman pensiunan pegawai dari BKSDA. Setiba di rumah, kami langsung disambut dengan hangat oleh keluarga beliau, disitulah kami ramah tamah atau napak tilas perjuangan dari rekan-rekan yang sebelum di Gakkum ternyata satu kantor di BKSDA Sulawesi Utara. Setelah ramah tamah sambil menyantap hidangan yang telah disediakan oleh tuan rumah, kami sejenak beristirahat untuk menyiapkan kondisi fisik agar tetap fit ketika pelaksanaan kegiatan operasi pengamanan di esok hari.

 

 

 

 

 

 

Setelah kami cukup untuk beristirahat, ketua tim mengumpulkan rekan-rekan untuk mulai rapat diskusi sistem dan strategi dalam kegiatan operasi pengamanan hutan di SM Karakelang. Kemudian tim bersepakat bahwa hari itu juga kami melakukan kegiatan intelejen terhadap titik-titik lokasi yang menjadi target operasi pengamanan.

Description: D:\GAKKUM SULUT MANADO\TONY 2019\APRIL\OPSPAM BEO TALAUD\DOKUMENTASI\IMG_20190425_114255.jpg

 

 

 

 

OPERASI PENGAMANAN HUTAN SM.KARAKELANG

(Artikel Bagian V)

Keesokan harinya setelah melakukan kegiatan operasi intelejen dengan menemukan titik-titik lokasi dalam kegiatan operasi pengamanan. Tim bersiap untuk melaksanakan kegiatan tugas operasi pengamanan dengan briefing dan berdoa terlebih dahulu oleh ketua tim.

Description: D:\GAKKUM SULUT MANADO\TONY 2019\APRIL\OPSPAM BEO TALAUD\DOKUMENTASI\IMG_20190425_153349.jpg

 

 

 

 

 

 

 

Setelah selesai berdoa, selanjutnya tim berangkat menuju lokasi operasi pengamanan dengan kendaraan milik kepala resort Beo. Jarak antara kantor resort dengan lokasi pengamanan sekitar 30 km jalur darat. Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit dari kantor resort, di tengah-tengah perjalanan tepatnya di sekitar jembatan yang menurut sumber informasi biasanya terdapat tumpukan kayu illegal dari dalam kawasan. Kemudian tim mengecek lokasi tersebut dengan mendokumentasikan setiap kegiatan di lapangan dan mengambil titik koordinat, setelah tim melakukan pengecekan ternyata di lokasi sekitar jembatan, kami tidak menemukan adanya indikasi tumpukan kayu illegal. Selanjutnya tim melanjutkan perjalanan ke lokasi yang menjadi target.

Kembali tim kami mengecek lokasi yang diduga adanya tumpukan kayu illegal dari dalam kawasan sesuai sumber dari informan. Namun setelah kami mengecek ke lokasi ternyata sudah tidak terdapat tumpukan kayu illegal tersebut. Tim menduga kegiatan operasi tersebut sudah bocor tersebar luas, sehingga kami hanya mengambil dokumentasi dan titik koordinat di lokasi tersebut.

Description: D:\GAKKUM SULUT MANADO\TONY 2019\APRIL\OPSPAM BEO TALAUD\DOKUMENTASI\IMG_20190425_135346.jpg

 

 

 

 

 

 

 

Setelah itu, tim mulai masuk ke kawasan SM Karakelang yang sangat jauh karena dengan berjalan kaki, karena tidak bisa dilewati dengan kendaraan. Tim memasuki kawasan hutan dengan menyusuri banyak sungai, sehingga hal tersebut menjadi kendala atau hambatan tersendiri bagi tim yang hanya dengan mengandalkan jalan kaki.

Sekitar kurang lebih 5 km, kami tiba di pos pertama yaitu sungai pertama. Ketika itu pada jam 10.00 wita arus sungai lumayan deras dan air meluap tinggi, sehingga tim memutuskan berisitirahat sejenak di pos pertama sambil mendiskusikan strategi perjalanan dalam menyusuri sungai-sungai untuk dapat memasuki kawasan.

 

 

 

 

 

 

Description: D:\GAKKUM SULUT MANADO\TONY 2019\APRIL\OPSPAM BEO TALAUD\DOKUMENTASI\IMG_20190426_091352.jpg

 

 

 

 

 

 

 

Selanjutnya tim memaksa melewati arus sungai tersebut agar dapat melanjutkan perjalanan menuju masuk kawasan. Sekitar pukul 11.00 wita, tim juga menemukan kembali sungai yang cukup dalam untuk di lewati, karena jalan menuju kawasan harus menyusuri aliran sungai tersebut, disini tim menyebutkan sungai kedua.

Tim telah menyusuri dua sungai namun belum menemukan adanya tumpukan kayu illegal dan ketika melihat peta kawasan melalui penggunaan aplikai Avenza Maps ternyata memang masih jauh untuk masuk kawasan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tim sempat bingung dan salah arah dalam memasuki kawasan hutan karena arah jalan sudah ada yang berubah, sehingga tim memutuskan untuk berpencar dalam menemukan arah masuk kawasan tersebut. Beruntung di tengah-tengah kebingungan tim dalam menysuri jalan yang sudah berubah, kami menemukan adanya pondok dan orang yang sedang berkebun di lokasi tersebut, sehingga tim menanyakan arah jalan kepada bapak-bapak tersebut. Setelah ditunjukkan arah jalan yang benar, kemudian tim melanuutkan perjalanan menuju kawasan. Tidak jauh dari lokasi pondok tersebut, kami harus melewati sungai kembali. Ketika itu sudah masuk pukul 12.30 wita dengan cuaca yang gelap dan sudah diguyur rintik-rintik hujan, lalu tim memutuskan untuk berisitirahat sejenak sambil menikmati makan siang yang sudah dibawa bekal dari rumah.

Setelah selesai menikmati makan siang, kemudian tim berdiskusi untuk membahas kelanjuta kegiatan operasi pengamanan dalam memasuki kawasan SM. Karakelang dengan pertimbangan cuaca yang telah turun hujan dan masih sangat jauh kawasan SM. Karakelang. Hasil keputusan musyawarah tim akhirnya melanjutkan perjalanan untuk memasuki kawasan dengan cukup hati-hati.

 

OPERASI PENGAMANAN HUTAN SM.KARAKELANG

(Artikel Bagian VI)

Description: D:\GAKKUM SULUT MANADO\TONY 2019\APRIL\OPSPAM BEO TALAUD\DOKUMENTASI\IMG_20190426_111824.jpgTim melanjutkan perjalanan dengan kembali menyusuri sungai yang sangat panjang dengan  bebatuan kerikil-kerikil. Setelah melewati beberapa sungai dan rintangan medan yang cukup berat disertai hujan yang mengguyuri badan, akhirnya tim mendengar suara senso yang diduga terdapat aktifitas memotong kayu. Tim pun dengan siaga cepat tanggap untuk mencari atifitas pemotongan kayu tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sekitar pukul 16.00 wita, tim menemukan orang yang sedang melakukan aktifitas pemotongan kayu atau bisa disebut dengan illegal loging dengan menggunakan alat senso. Salah satu dari tim mengeluarkan tembakan peringatan agar pelaku berhenti untuk memotong kayu dan rekan lainnya menangkap pelaku tersebut untuk dilakukan interogasi awal.

Beruntung pelaku yang sedang memotong kayu dapat diajak kerjasama untuk dilakukan pemeriksaan sumber kayu berasal darimana, untuk siapa dan apa kayu tersebut digunakan dan mencatat sumber informasi dari pelaku itu sendiri. Oleh karena itu, tim memutuskan untuk membawa pelaku dan barang bukti alat dan bahan ke kantor resort Beo untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Description: D:\GAKKUM SULUT MANADO\TONY 2019\APRIL\OPSPAM BEO TALAUD\DOKUMENTASI\IMG_20190426_133304.jpg

 

 

 

 

 

 

 

 

Pelaku yang telah dibawa oleh kantor beserta barang bukti yang lainnya oleh tim dilakukakan pemeriksaan penyidikan untuk menggali informasi dari pelaku tersebut. Setelah semua proses selidik oleh tim, kemudian kami berkoordinasi dengan kepala seksi untuk proses selanjutnya. Akhirnya setelah hasil koordinasi dengan kepala seksi di Manado dan disuksi dengan tim, sehingga untuk membuat efek jera bagi pelaku, maka pelaku kami serahkan kepada pemangku kawasan dalam hal ini resort Beo SKW I BKSA Sulawesi Utara untuk dilakukan pembinaan, sementara barang bukti kami tahan di kantor resort Beo.

Melihat dan menjadi saksi langsung adanya warga yang melakukan kegiatan illegal loging, penulis secara pribadi merasakan betapa sedih hatinya melihat salah satu sumber penyangga kehidupan yang dapat berkontribusi bersar dalam menghasilkan oksigen (O2) untuk kehidupan manusia tersebut di tebang dan dipotong oleh orang yang bertanggung jawab. Betapa tidak sedih dan mengiris hati ketika hutan kita Indonesia ditebang dan  lama kelamaan akan menjadi habis dan hancur masa depan hutan Indonesia.

 

Disisi lain Manfaat dan Fungsi Hutan Bagi Kehidupan diantaranya Sebagai Sumber Oksigen manusia diantaranya Mencegah Terjadinya Banjir Penyerap dan Penyimpan Gas Karbon Sebagai Penyeimbang Lingkungan Menyimpan Cadangan Air Mencegah Tanah Longsor Mencegah Terjadinya Erosi Tanah Menyuburkan Tanah Habitat Alami untuk Flora dan Fauna dan sebagai saran pendidikan atau edukasi bagi generasi penerus bangsa Indonesia.

Description: D:\GAKKUM SULUT MANADO\TONY 2019\APRIL\OPSPAM BEO TALAUD\DOKUMENTASI\IMG_20190426_171041.jpg

 

 

 

 

 

 

 

 

 Oleh karenanya sangat penting manfaatnya hutan, maka kita semua wajib menjaga dan melestarikan hutan alam demi masa depan Indonesia dan anak cucu kita kelak.





  “LISTRIK MBAH TJ ” : PEMANFAATAN ENERGI LISTRIK DARI LIMBAH TONGKOL JAGUNG   ( Zea mays L.) DI PROVINSI GORONTALO BERBASIS TEKNOLOGI MICR...