KISAH PERJALANAN TUGAS NEGARA DI PULAU PERBATASAN NEGARA FILIPINA KEPULAUAN
TALAUD PROVINSI SULAWESI UTARA
(ARTIKEL BAGIAN I-VI)

Disusun Oleh :
Nama : Tony Abdillah Gumilar, S.Si
NIP : 199411152018011002
Pangkat : Penata Muda / III a
Jabatan : Polisi Kehutanan Pertama
Unit Kerja : Balai PPHLHK Wil. Sulawesi
KEMENTERIAN
LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN
DIDIREKTORAT
JENDERAL PENEGAKAN HUKUM LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN
BALAI PENGAMANAN PENEGAKAN HUKUM LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN WILAYAH SULAWESI
KISAH PERJALANAN TUGAS
NEGARA DI
PULAU PERBATASAN NEGARA FILIPINA
KEPULAUAN TALAUD PROVINSI SULAWESI
UTARA
(Artikel Bagian I)
Hari Selasa Tgl 23 Bulan April Tahun 2019 penulis
masuk dalam sebuah tim tugas negara untuk melaksanakan perjalanan dinas dalam rangka
kegiatan Operasi Pengamanan Hutan di perbatasan Negara Filipina tepatnya di
kwasan SM. Karakelang Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Sulawesi Utara Provinsi
Sulawesi Utara.
Kawasan
SM. Karakelang SKW I BKSDA Sulut
Kawasan Suaka Margasatwa Karakelang terletak
di Pulau Karakelang Kabupaten Kepulauan Talaud, dimana Pulau Karakelang ini
merupakan pulau terbesar pada gugusan Kepulauan Sangihe-Biaro-Talaud yang
terletak diantara Ujung Utara semenanjung Pulau Sulawesi dan Pulau Mindanao,
Filipina. Pulau seluas 802,43 km2 ini berdasarkan analisa citra satelit tahun
2001-2002 terbagi atas wilayah hutan seluas 260,43 km2 dan kebun/perkebunan
seluas 232,78 km2. sedangkan sisanya merupakan lahan terbuka dan pemukiman
penduduk. Topografi di pulau ini umumnya landai hingga terjal dengan kisaran
antara 0 hingga 650 m dpl. Kawasan Suaka Margasatwa Karakelang ini terdiri dari
SM. Karakelang bagian Utara dan Selatan dengan luas keseluruhan ± 24.669 ha.
Sebelumnya status dan fungsi kawasan Hutan
Suaka Margasatwa Karakelang adalah Taman Buru. Hal ini berdasarkan SK Menteri
Pertanian No. 510/Kpts/UB/8/1979 tanggal 8 Agustus 1979 yang menunjuk kawasan
tersebut sebagai Taman Buru dengan luas ± 21.800 ha. Kemudian dipecah menjadi
dua kawasan Taman Buru dengan SK Menteri Kehutanan No. 517/Kpts-II/1989 tanggal
19 September 1989 untuk Kawasan Karakelang Selatan dengan luas 3995 ha dan SK
Menteri Kehutanan No. 399/Kpts-II/1989 tanggal 2 Agustus 1989 untuk Kawasan
Karakelang Utara dengan luas ±20.674 ha. Akan tetapi berdasarkan penelitian
potensi biotis yang dikandung oleh kawasan tersebut, maka berdasarkan SK
Menteri Kehutanan No. 97/Kpts-II/2000 tanggal 22 Desember 2000 kawasan tersebut
ditetapkan dan diubah fungsinya sebagai kawasan Suaka Margasatwa dengan luas ±
24.669 ha.
Suaka Margasatwa Karakelang terletak di Pulau
Karakelang yang secara administratif termasuk ke dalam wilayah Kabupaten
Kepulauan Talaud, Provinsi Sulawesi Utara. Suaka Margasatwa ini dibagi atas dua
kawasan yaitu Kawasan Karakelang Bagian Utara (100-608 m dpl) dan Kawasan
Karakelang Baggian Selatan (100-521 m dpl). Kawasan Karakelang Bagian Utara
secara geografis terletak kurang lebih pada (04013’45’’- 04013’32’’ LU dan
19050’30’’ – 20000’04’’BT) dan secara administratif berbatasan dengan Kecamatan
Beo, Kecamatan Essang, Kecamatan Gemeh, dan Kecamatan Rainis.
Pulau Karakelang penting secara ornitologi
karena termasuk dalam Daerah Burung Endemik Sangihe-Talaud, satu dari 24 Daerah
Burung Endemik (DBE) yang ada di Indonesia (E19) (Sujatnika et al., 1995). DBE
ini mendukung14 spesies burung sebaran terbatas (jenis yang memiliki penyebaran
<>2), dimana enam jenis diantaranya terdapat di Karakelang (Wardill et
al., 1997).
Iklim di wilayah Kepulauan Talaud adalah
iklim basah dengan curah hujan rata-rata 316 mm/bulan dengan kelembaban udara
berkisar 66-92 %. Intensitas curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember
hingga Januari dan musim kering pada bulan Agustus hingga September (Bapedda,
2003).
TIM MELAKUKAN PERSIAPAN KEBERANGKATAN
(Artikel Bagian II)
Sebelum tim melaksanakn tugas dinas operasi
pengamanan hutan tim melakukan persiapan yaitu diantaranya ketua tim melakukan
koordinasi dan diskusi dengan personil untuk melakukan rapat kecil diskusi tim
membahas alat dan bahan apa saja yang perlu dibawa seperti administrasi
penyidikan sampai dengan hal-hal kecil seperti system makan tim ketka di pualu
talaud, tiket kapal laut keberangkatan kemudian teknis kerja di lapangan
seperti apa, strategi operasi yang baik seperti apa dan membahas tentang
tindakan yang diambil ketika plan a maupun plan b tidak tercapai.

TIM
BERANGKAT DARI PELABUHAN MANADO MENUJU PELABUHAN BEO TALAUD
Setelah kemarin tim melakukan diskusi
kemudian pada hari selasa tanggal 23 april 2019 tim meakukan keberangkatan ke
pelabuhan Manado pada pukul 15.00 wita yang berkumpul di Kantor untuk berangkat
bersama-sama ke pelabuhan. Setelah personil tim lengkap berada di kantor maka
pada pukul 15.30 wita tim melakukan doa bersama dan foto bersama untuk meminta
pertolongan dan perlindungan selama perjalanan dalam menjalankan tugas Negara.
Sekitar pukul 15.45 wita kami sudah tiba di
pelabuhan Manado karena jarak antara pelabuhan dengan kantor cukup dekat kurang
lebih 10 km selanutya kami langsung naik ke kapal laut KM Barcelona II dengan
tujuan ke pelabuhan kepulauan Talaud dan Beo. Keberangkatan kapal laut kurang
lebih pada pukul 16.30 wita sehingga kami harus menunggu dengan melakukan aktifitas
foto di kapal dengan pemandangan laut kemudian tepat pada pukul 16.30 wita
kapal laut KM Barcelona II berangkat.

PERJALANAN NAIK KAPAL KM BARECELONA II
(Artikel Bagian III)
Selama perjalanan di kapal, kami ditemani
dengan cuaca yang kurang mendukung alhasil di luar turun hujan deras, sehingga kami
tidak dapat menikmati keindahan suasana sunset sore hari di kapal laut. Langit
gelap pun telah tiba ketika kami tertidur lelap di kapal, sekitar pukul 20.00
wita kami terbangun ketika ABK Kapal membagi-bagikan makan malam untuk para
penumpang, lalu kami pun menikmati santapan makan malam bersama.
Karena cuaca hari itu kurang bagus, maka
selama perjalanan masih di guyur hujan dan berderai ombak keras, sehingga
sering kali kapal bergerak dan bergoyang. Sekitar pukul 22.00 wita perasaan
mulai terasa khawatir ketika kebanyakan penumpang sedang terlelap tidur,
terjadi benturan keras kapal oleh ombak dan angin yang kencang, beberapa kali
benturan keras ombak menghantam kapal yang sedang melaju dengan kecepatan
tinggi.
Semakin larut malam, bukannya deburan ombak
semakin menurun, ternyata deburan ombak dan angina malah tambah semakin kencang
yang menghantam kapal sampai air beberapa kali masuk ke dalam kapal. Masuknya
air laut ke dalam kapal membuat para penumpang kapal termasuk penulis sendiri
merasa mulai sangat khawatir dan terbesit di dalam fikiran membayangkan tragedi
kejadian film Titanic yang tenggelam karena menghantam pegunungan es yang fenomenal
tersebut.

Kemudain puncaknya sekitar pukul 00.00-01.00
wita semakin terasa benturan keras kapal dengan deburan ombak yang menurut
perkiraan BMKG mencapai 4 m, yang mengakibatkan air kembali masuk ke dalam
kapal, sehingga semakin membuat tambah banyak dan barang-barang para penumpang
mulai hanyut entah kemana.
Penulis mengalami dan melihat kejadian
langsung tersebut mulai mengingat sama Tuhan Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW
untuk berdoa dalam hati mohon perlindungan dan keselematan untuk kami semua
tanpa terkecuali dan mohon diberikan mati syahid jika memang waktu nya sudah
tiba menghadap Illahi. Ketika penulis sedang mengaji dan berdoa, ternyata
terdengar suara-suara rintihan doa dari samping kanan samping kiri depan dan
belakang dari para penumpang baik itu berupa doa-doa islami, doa kristiani
maupun doa yang lainnya.

Hingga pada akhirnya, penderitaan selama goncangan
hebat di kapal laut berakhir sekitar pukul 04.00 wita atau mungkin jarak sampai
pelabuhan kepulauan Talaud sudah mulai dekat. Kemudian sampailah kami tiba di
pelabuhan kepulauan Talaud sekitar pukul 06.00 wita dengan melihat secercah
sinar matahari. Namun kami tidak turun di pelabuhan kepulaaun Talaud, melainkan
masih melanjutkan perjalanan ke pelabuhan Beo kurang lebih 3 jam. Tepat pada
pukul 09.00 wita akhirnya kami tiba di pelabuhan Beo yang perbatasan langsung
dengan Negara Filipina. Kami sudah di jemput oleh rekan-rekan resort BKSDA
Sulawesi Utara yang berkantor di Beo.
TIBA DI RESORT BEO & MEETING PERSIAPAN
OPERASI PENGAMANAN HUTAN
(Artikel Bagian IV)
Kami
diantar oleh rekan-rekan resort Beo dan menetap sementara di kediaman pensiunan
pegawai dari BKSDA. Setiba di rumah, kami langsung disambut dengan hangat oleh
keluarga beliau, disitulah kami ramah tamah atau napak tilas perjuangan dari
rekan-rekan yang sebelum di Gakkum ternyata satu kantor di BKSDA Sulawesi
Utara. Setelah ramah tamah sambil menyantap hidangan yang telah disediakan oleh
tuan rumah, kami sejenak beristirahat untuk menyiapkan kondisi fisik agar tetap
fit ketika pelaksanaan kegiatan operasi pengamanan di esok hari.
Setelah kami cukup untuk beristirahat, ketua
tim mengumpulkan rekan-rekan untuk mulai rapat diskusi sistem dan strategi
dalam kegiatan operasi pengamanan hutan di SM Karakelang. Kemudian tim
bersepakat bahwa hari itu juga kami melakukan kegiatan intelejen terhadap
titik-titik lokasi yang menjadi target operasi pengamanan.

OPERASI PENGAMANAN HUTAN SM.KARAKELANG
(Artikel Bagian V)
Keesokan harinya setelah melakukan kegiatan
operasi intelejen dengan menemukan titik-titik lokasi dalam kegiatan operasi
pengamanan. Tim bersiap untuk melaksanakan kegiatan tugas operasi pengamanan
dengan briefing dan berdoa terlebih dahulu oleh ketua tim.

Setelah selesai berdoa, selanjutnya tim berangkat
menuju lokasi operasi pengamanan dengan kendaraan milik kepala resort Beo.
Jarak antara kantor resort dengan lokasi pengamanan sekitar 30 km jalur darat.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit dari kantor resort, di
tengah-tengah perjalanan tepatnya di sekitar jembatan yang menurut sumber
informasi biasanya terdapat tumpukan kayu illegal dari dalam kawasan. Kemudian tim
mengecek lokasi tersebut dengan mendokumentasikan setiap kegiatan di lapangan
dan mengambil titik koordinat, setelah tim melakukan pengecekan ternyata di
lokasi sekitar jembatan, kami tidak menemukan adanya indikasi tumpukan kayu
illegal. Selanjutnya tim melanjutkan perjalanan ke lokasi yang menjadi target.
Kembali tim kami mengecek lokasi yang diduga
adanya tumpukan kayu illegal dari dalam kawasan sesuai sumber dari informan.
Namun setelah kami mengecek ke lokasi ternyata sudah tidak terdapat tumpukan
kayu illegal tersebut. Tim menduga kegiatan operasi tersebut sudah bocor
tersebar luas, sehingga kami hanya mengambil dokumentasi dan titik koordinat di
lokasi tersebut.

Setelah itu, tim mulai masuk ke kawasan SM Karakelang
yang sangat jauh karena dengan berjalan kaki, karena tidak bisa dilewati dengan
kendaraan. Tim memasuki kawasan hutan dengan menyusuri banyak sungai, sehingga
hal tersebut menjadi kendala atau hambatan tersendiri bagi tim yang hanya
dengan mengandalkan jalan kaki.
Sekitar kurang lebih 5 km, kami tiba di pos
pertama yaitu sungai pertama. Ketika itu pada jam 10.00 wita arus sungai
lumayan deras dan air meluap tinggi, sehingga tim memutuskan berisitirahat
sejenak di pos pertama sambil mendiskusikan strategi perjalanan dalam menyusuri
sungai-sungai untuk dapat memasuki kawasan.

Selanjutnya tim memaksa melewati arus sungai
tersebut agar dapat melanjutkan perjalanan menuju masuk kawasan. Sekitar pukul
11.00 wita, tim juga menemukan kembali sungai yang cukup dalam untuk di lewati,
karena jalan menuju kawasan harus menyusuri aliran sungai tersebut, disini tim
menyebutkan sungai kedua.
Tim telah menyusuri dua sungai namun belum
menemukan adanya tumpukan kayu illegal dan ketika melihat peta kawasan melalui
penggunaan aplikai Avenza Maps ternyata memang masih jauh untuk masuk kawasan.

Tim sempat bingung dan salah arah dalam
memasuki kawasan hutan karena arah jalan sudah ada yang berubah, sehingga tim
memutuskan untuk berpencar dalam menemukan arah masuk kawasan tersebut.
Beruntung di tengah-tengah kebingungan tim dalam menysuri jalan yang sudah
berubah, kami menemukan adanya pondok dan orang yang sedang berkebun di lokasi
tersebut, sehingga tim menanyakan arah jalan kepada bapak-bapak tersebut.
Setelah ditunjukkan arah jalan yang benar, kemudian tim melanuutkan perjalanan
menuju kawasan. Tidak jauh dari lokasi pondok tersebut, kami harus melewati
sungai kembali. Ketika itu sudah masuk pukul 12.30 wita dengan cuaca yang gelap
dan sudah diguyur rintik-rintik hujan, lalu tim memutuskan untuk berisitirahat
sejenak sambil menikmati makan siang yang sudah dibawa bekal dari rumah.
Setelah selesai menikmati makan siang,
kemudian tim berdiskusi untuk membahas kelanjuta kegiatan operasi pengamanan
dalam memasuki kawasan SM. Karakelang dengan pertimbangan cuaca yang telah
turun hujan dan masih sangat jauh kawasan SM. Karakelang. Hasil keputusan
musyawarah tim akhirnya melanjutkan perjalanan untuk memasuki kawasan dengan
cukup hati-hati.
OPERASI PENGAMANAN HUTAN SM.KARAKELANG
(Artikel Bagian VI)
Tim
melanjutkan perjalanan dengan kembali menyusuri sungai yang sangat panjang
dengan bebatuan kerikil-kerikil. Setelah
melewati beberapa sungai dan rintangan medan yang cukup berat disertai hujan
yang mengguyuri badan, akhirnya tim mendengar suara senso yang diduga terdapat
aktifitas memotong kayu. Tim pun dengan siaga cepat tanggap untuk mencari
atifitas pemotongan kayu tersebut.
Sekitar pukul 16.00 wita, tim menemukan orang
yang sedang melakukan aktifitas pemotongan kayu atau bisa disebut dengan
illegal loging dengan menggunakan alat senso. Salah satu dari tim mengeluarkan
tembakan peringatan agar pelaku berhenti untuk memotong kayu dan rekan lainnya
menangkap pelaku tersebut untuk dilakukan interogasi awal.
Beruntung pelaku yang sedang memotong kayu
dapat diajak kerjasama untuk dilakukan pemeriksaan sumber kayu berasal
darimana, untuk siapa dan apa kayu tersebut digunakan dan mencatat sumber
informasi dari pelaku itu sendiri. Oleh karena itu, tim memutuskan untuk
membawa pelaku dan barang bukti alat dan bahan ke kantor resort Beo untuk
dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Pelaku yang telah dibawa oleh kantor beserta
barang bukti yang lainnya oleh tim dilakukakan pemeriksaan penyidikan untuk
menggali informasi dari pelaku tersebut. Setelah semua proses selidik oleh tim,
kemudian kami berkoordinasi dengan kepala seksi untuk proses selanjutnya.
Akhirnya setelah hasil koordinasi dengan kepala seksi di Manado dan disuksi
dengan tim, sehingga untuk membuat efek jera bagi pelaku, maka pelaku kami
serahkan kepada pemangku kawasan dalam hal ini resort Beo SKW I BKSA Sulawesi
Utara untuk dilakukan pembinaan, sementara barang bukti kami tahan di kantor
resort Beo.
Melihat dan menjadi saksi langsung adanya
warga yang melakukan kegiatan illegal loging, penulis secara pribadi merasakan
betapa sedih hatinya melihat salah satu sumber penyangga kehidupan yang dapat
berkontribusi bersar dalam menghasilkan oksigen (O2) untuk kehidupan
manusia tersebut di tebang dan dipotong oleh orang yang bertanggung jawab.
Betapa tidak sedih dan mengiris hati ketika hutan kita Indonesia ditebang
dan lama kelamaan akan menjadi habis dan
hancur masa depan hutan Indonesia.
Disisi lain Manfaat dan Fungsi Hutan Bagi
Kehidupan diantaranya Sebagai Sumber Oksigen manusia diantaranya Mencegah
Terjadinya Banjir Penyerap dan Penyimpan Gas Karbon Sebagai Penyeimbang
Lingkungan Menyimpan Cadangan Air Mencegah Tanah Longsor Mencegah Terjadinya
Erosi Tanah Menyuburkan Tanah Habitat Alami untuk Flora dan Fauna dan sebagai
saran pendidikan atau edukasi bagi generasi penerus bangsa Indonesia.

Oleh
karenanya sangat penting manfaatnya hutan, maka kita semua wajib menjaga dan
melestarikan hutan alam demi masa depan Indonesia dan anak cucu kita kelak.
No comments:
Post a Comment